Machu Pichu

“Aku tidak suka kopinya, terlalu asal. Minta satu lagi yang lebih enak dari biasanya” gerutu wanita pelanggan kedai kopiku. Siang itu terik seakan tak ingin mengalah pada langit, dengan wajah cemberut aku mulai membuatkan kembali kopi untuk pelangganku.

“Sabar dong Nay. Tuh masih banyak pelanggan yang belum tersentuh. Ayo kamu bantuin sini, jangan ngomel saja“. Aku melangkah gontai ke arah Bima.

Hari yang aneh. Saat matahari tepat diatas kepala kedai kopiku ini malah ramai sekali. Bukannya mereka harusnya cari es atau semacamnya untuk mengademkan isi kepala mereka, menurunkan suhu tubuh mereka. Ah tapi ini rejeki, kedaiku malah ramai seperti ini. Aku mempunyai 5 pegawai dan sesekali aku turun tangan melayani pelanggan di saat ramai seperti ini.

“Nay nay bukan begitu cara membuat kopi yang enak. Kamu pikir ini kopi keliling apa. Perhatikan yah, gunakan air yang benar-benar bersih, suhu yang dibutuhkan adalah sekitar 95 derajat celcius. Yang kedua gunakan saringan kopi yang terhalus, ketiga gunakan dua sendok makan untuk ukuran enam gelas takaran yang pas.”

“Taburi garam bila konsumen menginginkan aroma, rasa pahitnya berkurang, begitukan Bim?”

“Nah itu sudah hafal cara buat kopi yang terlezat” Bima terkekeh. Dia sangat cerewet tentang kualitas kopi yang dijual. Tapi aku memang akui, racikan kopi dia memang dahsyat membuat ketagihan.

…………………..

“Nay 3 bulan lagi kita ke Machu Picchu yuk”

“ Visanya bisa selesai Bim dalam 2 bulan? Aku ragu”

“Kamu ingat saat kita ke sand boarding di Tangaloma? Ga pernah terpikir kan bakalan ada alam sedahsyat itu ?! Padang pasir di negeri 4 musim, padang pasir yang terbentuk karena tiupan angin terus menerus sehingga membentuk sand dune sampai ketinggian 20 meter.

“Yayayaa,, tentu saja ingat Bim. Sangat mengasyikkan surfing menggunakan papan, tapi diatas pasir. Arghhhhh ingin mengulanginya lagi. Meluncur wuswuswusssss, bahkan aku pun tak peduli seberapa tinggi aku harus melangkah lagi keatas. Andai ada lift, entah brapa puluh kali aku bisa seluncur. Belum lagi malamnya di cuaca yang sangat gemetar kita memberi makan ikan lumba lumba liar. Huhuhuhu pingin lagi Bim.”

“Tapi Nay, ga ditempat yang sama kan? Kita harus mencari daerah baru, untuk memberi makan jiwa kita”

“Kunjungi tempat yang tak pernah kau kunjungi. Makanlah makanan yang tak pernah kau makan, bacalah buku yang tak pernah kau baca, karena jiwamu butuh makanan, pikiranmu butuh cerita yang baru”

“Seratus deh untuk Nay-ku. Dan,,, kita nikmati kopi disana. I like coffee because it gives me the illusion that I might be awake”

“itu quote dari Lewis Black”

“Yup benar. So,,, siapin ya berkas berkasnya. Aku yang urus tiket, penginapan selama kita disana Nay”

3 bulan kemudian………

“Nay kita jangan lewat Inca trail yah. Base on my googling,, bule bule aja pada ngeluh. Yah kamu bayangin aja empat hari naik turun gunung. Kamu baru naik gunung semeru saja sudah menggerutu gak jelas, walau pas sampai puncak sumpah sumpah ga jelas pula saking senangnya.”

“Kan kita masih muda Bim, kenapa ga dicoba? Atau,, begini saja,, kita naik kereta api terus naik bus dari Aguas Calientes dan lanjut dengan trekking. Good idea kan ?

“Ga efisien itu Nay. Mending kita ikut travel budget aja deh, jadi orang kaya dulu sebentar untuk hemat waktu dan duit. Setelah aku hitung-hitung selisihnya ga banyak dan dari sisi tenaga kita bisa hemat kalau ikut travel.”

Perdebatan perdebatan kecil itu selalu mewarnai perjalanan ku dengan Bima. Tapi aku senang, paling tidak kita punya alternatif-alternatif selama perjalanan. Aku sendiri tak pernah bermimpi bisa sampai ke Machu Pichu, karena (lagi-lagi) kalau katanya Mbah Google, daerah Machu Pichu ini sangat terpencil, belum lagi menuju kesananya sangat ribet.

Eh tapi akhirnya bisa juga sampai di Cusco, so amajing makk. Aku dan Bima memutuskan untuk memakai jasa travel agent untuk berangkat ke Machu Pichu.

» Read more

TANPAKU , KAMU KESULITAN MENJALANI PERAN UTAMAMU

petaperjalanan.com cameoPada rona tengah malam aku terpikir, mungkin bagimu aku hanya cameo seorang figuran yang selalu ada disetiap adegan penting yang tengah kau jalani dari banyak kamera, dari banyak peran yang mengantarkanmu pada tawa pada bahagia pada sedih

Aku hanya seorang cameo

waktu itu kita bertemu disebuah angkot kumal dan entah kenapa wajahmu membuat transportasi buntut ini begitu sejuk,kau menyapaku dan tentu saja membuatku tak lancar menjawab, seolah aku menjadi beku, seolah aku menjadi bisu tiba tiba, mungkin aku perlu ke IGD waktu itu, andai saja tak segera berlalu, untuk sekedar menormalkan kembali aliran darahku.

Senyummu bagai bintang dan kamu seorang bintang, senyum yang dinantikan semua orang, bait demi bait kamu baca sempurna, scene demi scene kamu jalani. Disini kita dipertemukan kembali dalam sebuah ajang glamour sudut camera.

ahhh adegan canggung itu membuatmu memerah, menambah cerah rona pipimu. angin meniupkan rambutmu yang hitam kelam. Aku tahu kau selalu ingin tampil sempurna, seseorang yang selalu ingin sempurna dan tak ingin seorangpun melihat cacatmu.

Aku ? aku hanya cameo yang terkadang duduk disusut cahaya, kabur dan kadang dilupakan. Kamera itu menagngkap semua angel termanismu, menangkap cahaya dimatamu, menelusuri semua jiwamu. dan aku selalu jadi cameo dihidupmu diantara adegan adegan penting scenemu. aku berdiri disudut paling ujung, saat semua mata tak lagi bisa melihat apalagi memicingkan mata.

» Read more

Bateaux Mouches

Bateaux Mouches

Sore itu langit Jakarta membiru, udara lembab sesak masih saja saling beradu, keringat keringat mulai menetes menyusup dalam tiap pori baju. Aku mencoba duduk menggapai bangku kosong, disebuah kereta sore yang lelah, masgyul. Tanpa sengaja ku melihat seorang lelaki melangkah, kupandangi utuh tubuhnya,alis matanya saling beradu dibingkai kacamata minus , gaya kantoran yang cuek, dipundaknya bergelayut tas ransel, jam Casio rantai metalik bertengger ditangan kanannya, bajunya kotak kotak, celananya berwarna coklat, biasa saja tapi mataku tak bisa beralih melihatnya.

Sore itu distasiun Jakarta kota.
………..
Derit langkah kaki terserak, langkah langkah cepat menggapai gerbong kereta api, sore itu di stasiun Jakarta Kota. Aku meraih tempat duduk seperti biasa, berpacu menangkap peluang untuk sekadar mengistirahatkan tubuh yang seharian kaku berjajar didepan komputer. Sore itu aku melihatmu lagi, sinar matahari membiaskan rambutmu menjadi keemasan, baju kotak kotak dengan warna berbeda dan celana coklatmu, aku mulai terpikir mungkin kau membeli satu lusin baju kotak kotak untuk selalu kau pakai. Kereta mulai berangsur berangkat, kau duduk tepat diseberangku, perlahan kau buka tas punggungmu memasukkan tanganmu, dan tangan kirimu mencoba menahan tas agar tak terjatuh, masih kulihat jam Casio metalik itu bertengger.

Saat kau berhasil mengeluarkan buku itu,sedetik kita saling menatap, rasanya malu, terpesona dan bahagia. Buku itu sebuah buku philosophy tentang chemical process safety karya Daniel a crowl. Aku sedikit tercengang…., sore pulang kerja dan dia masih sempat membaca buku berat yang tak mungkin aku pegang atau masuk dalam list bacaanku kalau tidak sedang dikantor. Dan mungkin aku akan jatuh cinta padamu, lelaki sore yang terbingkai kacamata, berbaju kotak kotak, bercelana coklat dan mungkin bacaanmu akan membuat hatiku lumpuh.

Sore itu mata kita bertatap walau hanya sesaat.
………………….
Jakarta telah lupa bagaimana caranya menjadi kemarau, sore itu gerimis menyapu debu menjadi bau “ampo” yang kusuka, saat tanah basah tersiram gerimis. Aku menengadah kelangit mengulurkan tanganku seolah ingin menari atau sekedar diseberangkan gerimis. Tak biasanya kereta yang mengantarkanku kekalibata tertahan entah dimana. Tapi aku menikmati gerimis ini, meninggalkan tempat dudukku dan berjalan menyambut hujan.

Saat lonceng pertanda kereta tiba aku memundurkan langkahku, melongok kearah kanan, kereta besi yang kunanti mulai mengepul, tepat didepanku pintu mulai terbuka, aku duduk disudut gerbong seperti biasanya, kau sudah ada diseberangku, duduk membenarkan bingkai kacamatamu dengan rambut agak basah, aku menyukai lelaki berkacamata dengan rambut yang tersapu gerimis, seperti bintang yang bertaburan diatas harapan, seperti salju yang tertebar pada gurun.

Kereta mulai berjalan meninggalkan langkah langkah kaki yang mulai memadati gerbong, seperti biasa baju kotak kotak dan celana coklat membalut tubuhmu. Kau mulai meraih buku yang rupanya sudah berganti menjadi chemical engineering cost estimation yang ditulis oleh Robert aries, aku mengenal buku buku itu yang sangat akrab denganku dulu, kau pasti lelaki cerdas dengan buku bukumu itu.

Kulihat kali ini kau tak benar benar membaca bukumu, sesekali kau mencoba menyeka hidungmu mungkin karena musim yang tak lagi setia pada waktu telah meruntuhkan daya tahan tubuhmu. Dan saat mata kita saling beradu, dadaku terasa gaduh, aku pura pura berpikir dan meraih Hp dalam sakuku berpura pura menulis pesan dan melirik keatap kereta, dan mencoba menuliskan pesan kembali di HPku, argghhh bohong.

Seharusnya saat mata kita saling bertemu aku melempar senyum padamu, agar kau tahu aku memperhatikanmu, ternyata rambutmu cukup tebal, lurus, hitam mengkilap saat matahari tak menghujanimu

Sore itu kau tahu aku memperhatikanmu.

………..
Sore itu aku mulai memikirkanmu, apakah kau masih memakai kemeja kotak kotak dan celana coklatmu, kemeja yang agak lusuh di punggungmu, mungkin seharian kau duduk, berpikir dikursimu menarikan angka angka diotakmu. Aku mulai menerka buku apalagi yang akan kau baca, setelah water conditioning for industry, chemical reaction engineering, plant design and economics for chemical engineers dan masih banyak lagi.

Ketika aku mulai menghitung buku itu lagi, ternyata aku telah bertemu denganmu selama 365 hari lebih 8 jam, ditemani sore,dan reruntuhan langkah. Rasanya aku ingin menghancurkan altar waktu, rasanya aku ingin menyudutkan waktu. Kau ada didepanku, tapi aku hanya mengenalmu dalam diam, mengenalmu dengan tas punggung backpackmu, baju kotak kotak, celana coklat, jam casio metalik, dan tentu saja kacamata bingkai hitam yang membuatmu menjadi lelaki sempurna dihadapanku.

Tanpa sengaja ujung kelingkingku menyentuh ujung jari jemarimu dan entahlah seakan aku tersihir mengikuti langkah langkahmu, gerbong yang telah penuh dan kau mendapatkan tempat duduk itu. Dan aku? biasanya saat gerbong telah penuh, aku akan berjalan mencari ke gerbong yang lain dan sore itu aku terpaku bergelantungan digerbong penuh sesak ini, aku tersihir mengikuti alunan langkahmu.

Dan sialnya aku berdiri tepat dihadapanmu, tiba tiba keringatku mulai mengalir seiring laju kereta yang tak bisa kuhentikan, kau tersenyum padaku. “Deg “ seakan jantungku terhenti
“ Mau duduk? Silahkan, saya berdiri saja “
Aku tak berkata apapun, hanya tersenyum dan duduk dikursimu, hari yang kukutuki kenapa aku tak bisa mengucapkan terima kasih padamu dan saat kusadari itu, tubuhmu telah berada di antara tubuh tubuh yang terhimpit dan aku hanya bias terdiam.

Sore itu tiba tiba saja aku menjadi seseorang yang tak berterima kasih
……………
Aku duduk gelisah didalam kuda besi ini, sekali kali melongok kekanan dan kekiri kearah gerbong lain, aku menyadari saat sampai di stasiun gambir kau tidak ada dihadapanku, aku gelisah menunggu saat kereta menuju Gondangdia, Cikini, Manggarai, Tebet, dan kutak menemukanmu dihadapanku, aku hampir saja berdiri saat melihatmu berjalan dari arah lain, distasiun Cawang aku mendapatkanmu duduk dihadapanku dengan buku yang sudah ada digenggamanmu, rasanya ada perasaan menyesal saat tak melihatmu mengeluarkannya dari dalam tasmu.

Dan rasanya tak adil saat kereta berhenti di statsiun Duren Kalibata itu berarti kita akan sama sama turun dari kereta ini. Kau berdiri melirik kearahku, aku pura pura menata blouseku, meraih tasku, kau berjalan 4 langkah dihadapanku, aku tepat dibelakang orang ke 3 yang mengikuti langkahmu, ahhhhh kenapa aku tak langsung mengikutimu saja dan mengucapkan kata terima kasih karena kau telah memberikan kursimu untukku, saat aku menyadari pikiranku itu, aku sudah tak melihatmu dihadapanku, jalanmu sangat terburu sore itu, entah apa yang membuatmu sangat bergegas. Aku terdiam.

Sore itu aku sangat gelisah saat mataku tak menangkap bayangmu
………..
“hi apa kabar ?”
“terima kasih sore itu atas kursimu, kau jadi berdiri”
“kau bekerja diperusahaan EPC, Engineering , Procurement and Contruction atau di perusahaan oil and gas?
“kau tinggal di daerah dikalibata ya? Daerah mana? Aku di kalibata city”
“ maaf jam berapakah ini ?”
Ada banyak kalimat yang sudah kususun dalam beranda ingatanku, menunggu saat kau muncul, dan tepat sesuai jam di HP ku kau datang jam 17. 16 di stasiun ini. Kau menuju kearahku, pikiranku merancau dahsyat.
“kosong?”
Aku hanya mengangguk kearahmu, setelah 366 hari aku baru tahu parfum yang kau gunakan adalah Bulgari Aqua dan kau tepat duduk disampingku, sedikit menghimpit tubuhku, kursi ini terasa penuh sesak dengan keberadaan orang ketiga diiujung sana.

Ada yang baru dipergelangan tangan kananmu, saat aku melirik kearahmu kau mulai mengetuk ngetuk benda dipergelangan tanganmu, lalu muncul sensor sensor lampu itu, ada 5 titik yang menyala, kulihat kau tersenyum bangga. Hari ini aku mengenalmu lagi, kau hobi olahraga ternyata dan aku tahu benda yang melingkar itu Fitbit, sensor gerak yang harus kau capai dalam sehari, bau parfum ini seolah melekat dalam tubuhmu, bercampur dengan cerdasnya pikiranmu dan athletis tubuhmu, sempurna dengan bingkai kacamata hitam yang bertarung dengan matamu.

Kudengar kau menghela nafas panjang seolah ingin menyapa padaku. Suara lonceng itu seketika membuatku berdiri, kuda besiku telah datang, seakan aku ingin berlari meninggalkanmu, kalimat kalimat yang telah kususun musnah teriringi bunyi gesekan rel. sore itu aku gagal menyapamu kembali, kenapa aku menjadi bisu dihadapanmu, kenapa aku menjadi gugup dihadapmu.

Hanya ingin berdiri, menyapamu, “Hi” mengucapkan kata sederhana itu sudah cukup bagiku. Bersamammu dikereta ini membuat perjalanan ini sangat cepat, suara suara bising yang kadang mengganggukupun kudengar hanya dengungan yang berlalu. Kau benar benar Nampak gelisah, aku hafal raut itu, aku telah mengenalmu ratusan jam, ratusan hari, ribuan detik. Sesekali kau melirikku, hari ini kau tak membuka rangselmu tak mengeluarkan bukumu.

Seakan ingin mengatakan sesuatu padaku, beberapa kali tatapan kita saling bertemu, aku mulai gelisah. Suara peluit panjang dan suara masinis membuyarkan segalanya, kau mulai berdiri menatapku, benar benar menatapku, ingin mengatakan sesuatu atau mungkin juga ingin sekedar menyapa “ hi “, aku mendongak kearahmu tersenyum, senyum yang termanis yang pernah kubuat.

Kau mengernyitkan dahi tak membalas senyummu, kau terus menatapku seolah ingin berkata sesuatu, lama sekali kau memandangiku sampai saat kereta ini benar benar berhenti, dan saat aku mulai berdiri, saat kau mulai melangkah mendekatiku, hilir mudik penumpang menghalangi jarak kita, dan mau tak mau kau harus turun duluan, sore itu aku penasaran apa yang ingin kau katakan.

Sore itu aku merasa ada yang hilang entah kapan dan dimana

…………..
Empat belas hari tak melihatmu memakai kemeja kotak kotak, celana coklat, tak melihatmu mengeluakan buku bukumu dari tas punggung yang menemanimu, tak melihatmu melirik jam tanganmu dan mencoba menatapku. Sejak sore itu, sejak kau berbicara dalam diam. Kembali aku merasakan begitu bisingnya kereta ini, begitu tak beraturnya orang lalu lalang menjajakan barangnya, dan begitu tak terurusnya kereta ini, Perjalanan stasiun Jakarta kota ke Duren Kalibata terasa lama bagiku, udara pengap selalu membuatku sesak, bau keringat saling beradu mengalir dari krah krah, kaos kaos pedagang, pekerja, pengamen bercampur sangat menggangguku. Begitu buruknya sore tanpa kehadiranmu.
Sore menjadikannya waktu yang tak ingin kulalui.

……………
Aku benar benar kehilanganmu dalam catatan waktuku 150 hari, 7 jam, 160 detik. Aku takut tak lagi bisa menemuimu, aku harus berangkat besok pagi ke Paris ada tugas yang harus kuselesaikan disana selama 2 tahun, takut saat kau muncul dan tak menemukanmu.
………………..
Aku berada diatas kapal Bateaux Mouches, menikamti sisi lain dari kota romantic ini, udara dingin menusuk ketulangku, tapi aku tak beringsut dari dek atas kapal ini, aku mencoba mencerna satu persatu Gereja Notre dame, Museum Louuvre, Les invalids, jembatan Alexander III, dan saat kapal yang kutumpangi melewati menara Eiffel aku melihat bayangan lelaki berkacatama minus, dengan baju kotak kotak dan celana coklatnya, melihat ke arahku, tepat 10 langkah dihadapanku, diatas kapal yang sama, sore itu kau bergegas menuju kearahku, aku tersenyum kerahmu, kau sedikit berlari tersenyum kearahku.

Bateaux Mouches mempertemukan kita dan aku mulai berkata “hi…” dan percakapan panjang itupun membuatku lupa tentang arsitektur paris yang kulewati.

Sore itu katamu, aku adalah gadis kereta yang selalu memakai blouse putih, potongan rambut pixie, tas jinjing berwarna biru, sepatu “kets” berjumlah lima sesuai warna celanaku dihari kerja, gadis manis yang ditemani lesung pipi indah disudut kereta.

paris

EMPAT MUSIM, 5 Tahun lalu

EMPAT MUSIM, 5 Tahun lalu

“Senang rasanya ada disini, aku memesan expresso dan kamu caffe latte sambil menikmati camilan sederhana pisang goreng original dan coklat untukmu” celoteh Tan
Julian tersenyum melirik Tan, tidak begitu cantik, tapi Tan mempunyai daya tarik yang luar biasa. Dia begitu nyentrik tak “ketulungan” mulai dari cara berpikirnya apalagi gaya pakaiannya seakan otomatis mengikuti otaknya mengarah. Tiba tiba Julian turun dari kursi tanpa ragu, tanpa sungkan, tanpa malu lalu berjongkok didepan Tan“aku tahu cincin ini sangat sederhana, tak bisa kau jual saat membutuhkan, tak bisa kau banggakan, tapi aku ingin kau tahu, cintaku tak bisa dibeli oleh apapun, kau bisa membanggakanku, maukah kau menikah denganku ?”

Tan melotot kearah jidat Julian, seakan memberi kode kepada Julian untuk berdiri, tapi Julian tetap bersikeras untuk berlutut dihadapan Tan.
“aku akan menjawab asal kau mau duduk disampingku,” Tan setengah mengomel dan cemberut, Julian berangsur berdiri, menggeser tubuh “cekingnya” untuk kembali duduk di sebelah Tan
“aku ingin kita putus “ kata Tan dengan pandangan tak bergeming kedepan
“whatsss…….” Julian setengah berteriak .“Tan ada yang salah dengan ucapanku, permohonanku, atau kalau memang kau belum siap aku bisa mencabut permintaanku, tapi jelaskan…..!!!!!!” Julian mengangkat kedua bahunya, mengernyitkan kedua matanya , duduknya bergeser menghadap Tan seolah ingin meminta penjelasan sampai ke atomnya.

“ 2 Tahun , baru lulus, ngajak nikah, ngasih cincin dari rotan, terus mau dikasih makan apa? Aku ingin kau sungguh sungguh memberiku cincin berlian, kalung mutiara, melamarku ditempat romantis, aku tidak mau anak anakku terlantar kepanasan karena harus naik turun angkot, aku mau beli mobil, punya usaha sendiri, punya rumah dengan pekarangan yang luas, ada kolam renangnya, dan tiap tahun kita berlibur keluar negeri dan satu lagi aku ingin punya rumah di Australia di Melbourne” cerocos Tan tanpa rasa bersalah
“kamu kok jadi matre, ya kalau kita berkeluarga harus dimulai dari nol semuanya..!!!!!”
“nah ini dia, sudah jadi perjanjian kita” seolah Tan tak mendengar ucapan Julian
“hah apa apaan sih ini” Julian setengah memekik
“ga usah kaget, biasa aja kaleee!!! 5 tahun hanya sebentar masak nunggu 5 tahun aja kagak bisa, toh ini juga untuk kebaikan bersama, Pak temoooo…..sini dung”
“ iya neng, knapa? “
“Tanda tangan disini, ini perjanjian kita dan Pak temoooo jadi saksi kita, simpan baik baik ya pak, 5 tahun lagi kita akan kesini “ Tan dengan tenang dan cuek menyerahkannya ke pak temo tanpa peduli dengan Julian yang masih “melongo” Setelah menyerahkan surat perjanjian itu ke pak temoo, Tan ngeloyor keluar………
Sore itu di café “salju” sepasang mata berkaca kaca dan sesak di dada mulai merambat

2 September 2013
“Cie cie yang lagi ngeliatin mantan yang ditelantarin 5 tahun lalu, udah ganteng aja tuh dia, sering nongol di TV, ntar lagi jadi selebriti, banyak duit , banyak cewek, cewek kayak lu dibuang kelaut aje” berondong Pandu
“enak aja, aku yakin kok dia masih setia ama aku, dia telpon lho ngajak ketemuan”
“Tan, untuk meeting dengan client besok bagaimana?”
‘“ Kamu handle dulu yah semuanya, kali ini I need you more and more”
“iya deh iya, elu bosnya, anak buah mah nurut aje apa kata bu bos”
Disebuah restoran bintang 5, tampak Tan duduk menikmati soto pesanannya, mengaduk aduk, sesekali minum dan duduknya pun tak jenak
“hi, makan di restoran bintang 5 pesanannya kok tetep aja soto, kan bisa pesen spageti, pizza….”

Dada Tan berdegup kencang saat Julian muncul dihadapannya, wajahnya licin bak lilin Madame Tussauds, rambutnya seger seperti habis mandi kembang 7 rupa, dan sorot mata nya sama sekali tak berubah, tajam tak terbantahkan…..Tan tergagap

“oh iya, mau ngajakin kamu sekalian makan siang dan juga aku ingin mengenalkanmu dengan seseorang, oh itu dia sudah datang…., sayang kenalkan ini Tan seorang designer Web terkenal lho…..
“ hi, sofia…”
“Tan…..”
“kami akan bertunanngan bulan depan,” Julian tersenyum
Siang itu, ramai, panas, tak berteman, gusar.

Malam, gerimis , sunyi 10 september 2013

Suara telpon berdiring dirumah pandu, berulang menunggu jawaban, suara diseberang sana tak asing lagi bagi Pandu
“Ndu, minggu ini gue harus cek up lagi kedokter,harus terbang ke Singapur”
“Kamu gapapakan Tan? Obat obatnya masih lu minum?”
“dua hari ini gue mimisan sehari bisa lebih dari 3 kali, sudah sebulan ga minum obat”
“Gila lu Tan……aku pesan tiket malam ini juga ke Singapur, aku telp juga dokter Ronald dan rumah sakit untuk keperluanmu disana, besok pagi aku jemput”

2 Minggu berlalu

“ndu kamukan akrab banget dengan Tan, kok aku telp ga bisa terus ya?”
“hemmm ntar dulu ya yan , aku lagi meeting nih diluar negeri, nanti telp lagi deh ya …..”
Pandu mematikan telponnya…….dan tiba tiba saja……
“gila lu ya, bilang meeting keluar negeri tak tahunya disini, di INDONESIA, di KANTOR PULAK, tega lu ya, sekarang bilang ama gue dimana Tan, brengsek juga itu anak mempermainkanku, mempermainkan perasaanku, 5 tahun aku menunggu, 5 tahun aku ga pernah berhenti berharap, seenaknya saja dia menghilang”
Semua karyawan melihat kearah Julian,Pandu dengan sigap menyeret Tubuh Julian kedalam sebuah ruangan untuk menghindari tatapan karyawan dan tentunya agar Julian terhindar dari lemparan asbak.
“Ngapain sih lu nyeret nyeret gue kesini, biar saja mereka tahu bahwa bos mereka itu wanita brengsek……”
Pandu menghela nafas panjang “ siapa yang lu katain brengsek, gue lempar pakai toak baru lu nyadar gitu…!!!!! Baru lu tahu diri….!!!!!! Gue yang seharusnya marah ama lu, kemana aja lu selama 5 tahun, berapa wanita yang udah lu peluk, lu bertemu Tan hanya mau memamerkan tunanganmu begitu…!!!!! Hanya ingin menyakiti hati Tan begitu….!!!!!!!! 5 tahun, gue sendiri yang merawat Tan, melewati masa masa sulitnya, menghiburnya, dan yang pasti mengharapkan penatiannya tak sia sia untukmu, lu pikir selama ini dia hanya minum vitamin,lu pikir dia hanya minum pil kecantikan?!!!
Nada bicara Julian mulai mereda” maksudmu? Cewek Tunanganku itu hanya aku bayar, aku ragu saat bertemu Tan apakah dia masih menyanyangiku, dia masih menginginkanku kembali, dia masih menantiku…….lalu ada apa dengan tan ….? Julian mengguncang tubuh Pandu
“Tan terkena kanker otak stadium 4, dia ada di Singapura sekarang………………..”
“apahhhhhh………..?”

Pagi, di Bandara Soekarno Hatta, dua pemuda yang enggan bertegur sapa mulai melangkah menuju penerbangan ke Changi airport,
Sesampainya di Changi mereka menuju ke Elizabeth Hospital tempat dimana Tan dirawat. Dalam sebuah ruangan Julian menatap mata Tan yang sudah meredup, Tan tersenyum setengah memaksa.
“ kenapa kamu tak pernah bilang Tan? Kenapa kamu tak pernah bercerita? Wanita yang kukenalkan padamu itu dia bukan tunanganku aku gugup saat harus bertemu denganmu pertama kali, aku tak mengerti harus bicara apa, aku……”
Tan tersenyum , menggenggam erat tangan Julian” aku tahu , kau masih menungguku, walau aku meminta 1000 tahunpun, aku tahu kamu terlalu bodoh dan konyol
“Tan…..’ isak Julian
“Sayang, maafkan aku sejak 5 tahun lalu, dokter memvonisku, memberiku harapan hanya 5 tahun, aku tahu jika saat itu aku menerimammu, kamu tak akan seperti sekarang ini, kamu tak akan menjadi chef yang hebat, setiap Tahun aku selalu datang ketempatmu bekerja, setiap tahun aku selalu meninggalkan comment disetiap masakanmu, tahun demi tahun masakanmu mengalami peningkatan dan rasanya tak adil jika bila aku harus menemuimu setiap aku memesan makanan ditempatmu bekerja, aku ingin kau mandiri…”
“ tapi bukan seperti ini Tan caranya, aku bisa menjagamu, aku bisa berjuang lebih keras, asal itu bersamamu,sekali lagi aku ingin melamarmu, dengan cincin berlian yang kau minta….aku mohon…..”
“jangan Julian, aku mohon”
“aku akan tetap memohon padamu Tan, aku tak akan pernah beranjak dari hadapanmu, kali ini aku mohon, aku tak mau kebodohanku terulang dua kali”
Diluar sana Pandu meneteskan air matanya, hatinya seperti teriris tak sanggup melihat Tan dan Julian………..
“ dengan satu syarat, aku ingin kembali ke Jakarta…..”
“tapi disini kesehatanmu lebih terjamin….”

Setelah 2 hari, akhirnya Tan diperbolehkan pulang ke Indonesia. Dokter di Singapura tak bisa memberikan harapan lebih kepada Tan dan Julian, di Indonesia persiapan pernikahanpun sedang dilakukan dan keajaiban itu muncul sedikit demi sedikit Tan mulai mampu berjalan lagi, mulai riang kembali dan saat tiba di Indonesia di depan banyak saksi undangan Tan dan Julian menikah, ada rasa haru yang tak pernah bisa disembunyikan.

Hari Kedua pernikahan

“Julian terima kasih telah membawaku kesini, ke café yang selalu mebawa kita pada keriangan. Setiap Tahun aku kesini melihat menu dan mengumpulkan menu menu itu, mengubah namanya sesuai kenangan kita, memberi nama setiap minuman, makanan dan aku juga menambahkan beberapa makanan kesukaan kita sebagai tambahan menu. Aku ingin kau mengelola café ini dengan baik, aku telah membelinya dari pak temo dari waktu ke waktu untuk bisa kau miliki, untuk bisa kau kelola, untuk bisa kau sentuh, untuk bisa kau sajikan masakanmu dengan penuh cinta, aku mohon jagalah café ini untukku, dimana kenangan dan cinta kita tumbuh”
Julian menggenggam semakin erat tangan Tan, air matanya menetes tak dapat terbendung, hatinya seakan padam……………….

5 Bulan kemudian

Café itu masih ramai, banyak sekali para pasangan mampir untuk kongkow kongkow, ataupun para eksekutif muda melakukan negoisasi bisnisnya disana. Julian tersenyum memandangi foto almarhum Tan dengan penuh cinta
“Pak Julian, saya minta expresso dan caffe latte satu……………..”
Siang itu disudut ruang Jakarta

kopi tan

Mencintaimu Tak Perlu Alasan

Taman yang kita bangun hampir usai, kurang beberapa langkah dari ayunan langkah dan genggaman kita, kamu masih ingat saat kita berdua duduk saling bersandar dan melihat hentakan sayap kupu-kupu yang ciumi bunga merekah?yang kita tahu waktu itu,walaupun sayap kupu-kupu indah namun dia tak sekuat yang kita bayangkan,warnanya akan pudar saat kita sentuh dan juga sayapnya terlalu rapuh mudah koyak, tapi kita bersepakat walau sayap itu rapuh dia tetap tangguh,karena dia mampu terbang melebihi tinggi badannya, bahkan berlipat-lipat lebih tinggi dari tubuh mungilnya, kamu masih ingatkan?
Aku takkan pernah lupa saat itu, saat tak ada mendung ditaman yang telah kita bangun dengan sebuah pelukan dan ciuman, dan aku masih saja berharap pertengkaran kecil kita ini hanyalah pondasi dan hiasan taman kita, agar lebih indah dan anggun

Dalam jelaga sore
Kamu masih ingat saat pertama kali kita bertemu, hujan tiba-tiba saja mengguyur sore yang benderang, seakan sore itu jadi jelaga pada sisi tiupan senja, aku dan kamu bertemu disebuah mall,disebuah tempat dimana semua fashion di”geber” dan kita merasa asing didalamnya, aku dan kamu memilih mneyingkir disudut ruang yang tak begitu ramai oleh pengunjung,toko buku yang mulai ditinggalkan,aku dan kamu tak sengaja berada disudut rak yang hampir sama,hingga tubuh kita terasa jadi magnet yang saling bertubrukan
”maaf, aku tak sengaja” kataku
Dan kau melihatku, sekilas….lalu tersenyum, kamu tahu apa yang kupikikan saat itu, hatiku melumer oleh salju,kurasakan Himalaya menutupi hatiku,kau jongkok dihadapanku
”maaf HP anda jatuh”
”ups…..iiii yaaa, anda benar, wah baterai dan casingnya dimana ya?”
aku tak menyadarinya,hp ku telah berantakan dan gadis itu telah meletakkan hpku dalam genggamannya, wajahku memerah dadu, lalu aku mulai meangkai kepingan-kepingan PDA ku,aku coba menyalakannya.
”maaf bisa minta bantuannya?
”iya, knapa?kata gadis senja itu
”tolong miscall aku, aku takut PDA ku jadi tak berfungsi
Kudengar, sautan nada dari PDAku,aku tersenyum semanis yang kumampu ”terima kasih”
”is ok” kali ini dia tersenyum dan mengucapkan beberapa, tangkai kata
Hemmmm kali ini hatiku berantakan tak sempurna, aku paling alergi melihat cabe yang nyasar di gigi, rasanya aku ilfeel dan mual saja, hi………..
Pertemuan yang menggelikan pikirku cantik namun sayang bercabe,tapi kalau dipikir-pikir tak mengurangi inner beautynya, sepertinya dia wanita yang smart, cara dia berbicara, cara dia menyapa dan memperlakukan orang, kelihatan sekali kalau dia orang yang beradat.
Dan aku? Hemmm aku mempunyai nomer teleponnya, dia tak menyadari, kalau aku minta nomer telponnya dengan cara yang tak lazim, gengsiku cukup tinggi untuk meminta langsung nomer telpnya………….ah mungkin ini juga kan jadi cerita lalu, seperti biasanya.
Banyak bangun datar,bunyi-bunyian,file-file komputer yang mencoba masuk dalam memory otak kecilku berjubel, dan kucoba mendefragnya berulang kali, namun aku gagal melupakan gadis senjaku yang bercabe itu, aroma kelakianku tak mampu melupakannya, apalagi jiwaku yang sefisik dengan adam
Huhhhhhhhhhh,dunia terasa sempit dalam jejalan-jejalan memoriku, yang menyimpan sebuah kotak untuknya.Kotak tentang parasnya,abu-abu dalam absurbku.

» Read more

1 2