SEBUAH KARYA YANG TAK PERNAH USAI

La Sagrada Familia masterpiece karya seorang jenius Antoni Gaudi, sebuah karya yang tak pernah usai dan merupakan karya seni dalam sejarah yang paling lama pengerjaannya. La sagrada familia adalah salah satu land mark yang paling populer di Barcelona. Karya Antoni Gaudi lebih sering menggunakan penggunaan ornamen  serta bentuk bentuk yang menyerupai keadaan alam seperti gua, tebing dan Gaudi juga banyak terisnpirasi dari gaya arsitektur Moore  dan ditambahkan lagi dengan sentuhan gothic dan art noveau. Gaudi memberikan elemen elemen yang sangat organik yang membeku beberapa detail dan bahkan sangat muscular yang seolah olah berkontraksi menahan gaya beban struktural, batu batuan gaya arsitekturnya pun tampak meleleh seperti bunga, La sagrada familia seolah bangunan yang kontroversi ditengah bangunan barcelona yang hanya tampak kotak kotak, Gaudi seolah anti lurus dalam setiap detail bangunannnya, Luar biasa.

» Read more

No Dream is Too Big

Bagian terbaik dalam hidupku adalah sebuah perjalanan yang sedang kususun kali ini. Bagiku berkeliling dunia dan menaklukkannya hanyalah sebuah mimpi. Bagaimana tidak? Hidup sehari hari saja aku susah. Nasi putih, kecap dan krupuk adalah surga bagiku. Himpitan ekonomi sulit tak membuatku pantang menyerah, dengan kata lain menjadi pintar, rajin dan gigih adalah mutlak jika ingin merubah nasib.

Saat SMPTN lulus masuk di Teknik Industri ITB adalah awal perjuangan yang dimulai dengan ikhtiar mencari pinjaman untuk biaya berangkat ke Bandung dan membayar pendaftaran ulang. And there I am, bermodal semangat bonek finally get my feet on Bandung. Bandung yang dingin membuatku senyap, anak kampung yang datang ke negeri kosmopolitan. Awal-awal semester ku lewati dengan menumpang  sana sini dan akhirnya bisa menetap dan menyewa ramai ramai dengan teman-teman yang kutemui di ‘perjalanan’ antrian daftar ulang. Kontrakan sederhana yang tersohor angker, which is itu sebabnya kami bisa dapat harga sangat miring, hehehe. Jika mahasiswa-mahasiswa lain dapat pesan rajin dan fokus belajar supaya bisa lulus cum laude, untuk kami para mahasiswa kurang mampu ada daftar tambahan ‘rajin-rajin cari info beasiswa dan bertamu ke dosen pembimbing minta referensi kakak angkat alumni yang bersedia kita repotin keuangannya.’

Aku takjub dengan bangunan bangunan di ITB ini, menurutku arsiteknya sangat bagus, megah, kokoh dan terkesan unik. Untuk pertama kalinya aku mencintai sebuah seni, dibandingkan rumahku yang !)&&!#!& (sensor). Ah sudahlah, dirumah itu aku merasa damai dan surga, disini aku merasa kecil.

“Hoi. Anak Industri kan ? Suka Seni?”

“Hai…” aku tergagap. Aku sering melihat cowok ini di kelas, tapi tak satupun yang berhasil mengajaknya bicara lebih dari 10 kata, ajaibnya dia menyapaku duluan.

“Yudha…”dia mengulurkan tangan

“Kinanthi” aku mengulurkan tangan menyambutnya

“Di depanmu ini adalah aula timur, dan yang disisi lain adalah aula barat” sambil menunjuk kea rah tempat aula barat berada. “Kamu tahu siapa arsiteknya?” Aku menggeleng ragu.

“Arsiteknya adalah Henry Maclaine Pont, seorang ahli dari Belanda. Dia memadukan unsur nusantara dan eropa. Kamu tahu kuncinya masih asli lho sampai sekarang ga diganti . Satu lagi yang unik disini adalah masjid Salman ITB. Nanti kalau pas sholat disana kamu perhatikan deh, bangunannya tanpa kubah tanpa kolom. Hebat kan? Pasti kamu bertanya kok bisa aku tahu semuanya? Dulu aku sering ke sini saat SMA, aku melakukan melakukan banyak perjalanan yang membuat ku tak pernah bosan. Aku punya globe di kost an,suatu hari nanti aku ingin berkeliling kemanapun yang aku suka, mengunjungi setiap tower yang ada di negara-negara yang kujejak.” Aku hanya bengong dalam hati ini anak baru kenal nyerocos ga ada habisnya.

Siang itu adalah perkenalanku yang tak terduga dengan Yudha, pria berkacamata minus yang berpenampilan ala anak “traveler”. Gayanya cuek,,, tapi cakep juga lho.

Pertemanan kami mencapai 8 semester. Dia yang membangkitkan anganku untuk berkeliling dunia. Di dalam kamarku terpampang peta dan perjalanan yang ingin kutempuh setelah pertemuan pertemuan dengannya yang berapi api.

“Kinan, besok kita sudah wisuda lho. Kamu memperhatikan tidak tentang gerbang ITB dan bunga yang ada diatas kita ini ? Bunga bougenville ini hanya berbunga pada bulan Agustus pada saat penerimaan mahasiswa baru, bunga yang berwarna ungu mekar di pertengahan semester, sementara itu bunga berwarna merah muda mekar di akhir semester” celoteh Yudha dengan senyum yang penuh semangat sambil memberi ku secarik kertas bertulis “The world is a book and those who do not travel read only one page (Augustine of Hippo)”

3 tahun semenjak lulus dari ITB aku diterima di sebuah perusahaan bergengsi. Dalam hitungan 36 bulan aku adalah manager termuda ditempatku bekerja, doa ibu adalah jawaban dari semua ini.

Aku masih ingat betul 3 tahun lalu saat bersama Yudha, dia yang memberikan semangat tentang sebuah perjalanan. Tapi keinginan ‘menjelajah dunia’ tak lantas membuatku egois, terlebih saat ibu ku divonis kanker. Tuhan memberikan cobaan dan rejeki sesuai waktunya bukan? Saat aku telah cukup mapan secara financial, keluarga kami berjuang dengan segala iman dan materi yang kami punya mendampingi perjuangan ibu memperoleh kesembuhan. Hingga akhirnya, Tuhan menghendaki menghentikan rasa sakit ibuku dan mengangkat ke sisiNya, dan pesan terakhir ibuku ‘saatnya kamu membahagiakan dirimu sendiri nak. Bahagia kan dirimu. Jelajahi dunia seperti maumu’. Pesan itu yang menjadi titik balik dari serangkaian perjalananku ‘menjelajah dunia’.

Pertama kali aku melangkah adalah ke negeri tetangga ke Singapura. Aku dulu tak pernah tahu dan peduli ternyata kita tak boleh rumpi saat berjalan ditengah escalator. Jalur kanan adalah untuk yang santai santai saja, jalur kiri adalah untuk jalur cepat. Beda saat aku balik ke Indonesia dimana eskalator dibuat jalur rumpi, arisan, ataupun pacaran. Setidaknya aku bisa menularkan kebaikan dengan berdiri ditempat yang benar.

Perjalanan ke 2 adalah saat ke Malaysia. Dinegeri tetangga ini aku begitu takjub dan menderita. Indonesia dan Malaysia adalah saudara serumpun tapi apa di kata, Malaysia jauh lebih unggul. Wisata digarap begitu bagus, ada mobil Hop On Hop Off yang bertujuan mengantar wisatawan keliling area area wisata. Itu yang membuatku menderita. Di Jakarta?  Bila ada bis Hop On Hop Off, pasti para turis sudah pada pingsan duluan karena macet yang tak terurai.

Tomyam? “whats” bagaimana bisa makanan basi bisa mendunia. Mencium aromanya saja bisa membuatku mual-mual. Saat mengunjungi Thailand dalam jangka waktu 2 minggu akhirnya mau tidak mau harus makan. “Sesuatu itu harus dipaksa untuk mencapai tujuan sampai kau sendiri tidak sanggup”, itu yang membuatku bertahan. Dan akhirnya saat ini aku malah menjadi penggemar Tom Yam nomer satu.

Aku tidak pernah sebahagia ini sebelumnya. Bagiku berkeliling dunia hanyalah mimpi, bagiku mengenal budaya negara lain hanyalah delusional. Aku ingat betul saat kami sekeluarga melihat TV hitam putih tentang liputan Buckingham, ibu berkata “suatu saat kamu pasti kesana nak, menikmati takjub udara London, pegangkan untuk ibu jeruji istana Buckingham.” (norak ya)

“Pasti bu. Doakan” jawabku dengan optimis.

Here I am, berdiri di tanah Inggris. Aku tak peduli saat mata memandang kepadaku saat kulebarkan tangankan, berputar-putar menghirup takjub udara London. Kulangkahkan kaki ku dengan pasti menuju istana Buckingham dan kupegang jeruji pagarnya seperti pinta ibuku.

“Untukmu ibu aku berada disini, memenuhi inginmu” Ah andai ibu masih hidup pasti aku sudah mengajaknya kesini.

“Kinan berjanjilah padaku bahwa kau akan sampai di tanah London, berjalan menyusuri tower bridge, berjalan menikmati sungai thames, menyaksikan pertunjukan di globe teather. Lalu kita akan bertemu diantara kaki kaki eifel sambil menikmati keindahannya dari atas Bateaux Mouches” Kata Yudha 3 tahun lalu dibawah taman bougenvell.

Kubuka laptop dan mulai menulis e-mail untuk Yudha.

Lalu nikmat apalagi yang bisa ku bantah

visa yang terapprove, concrete dan beton yang bermahtab

melihat budaya yang berbeda, merasakan air yang berbeda

berjalan di bawah Arc de Triomphe, bahkan napoleon pun belum pernah berjalan melewatinya

Lalu nikmat apalagi yang ku ragukan

menyusuri hutan black forest, menyelami lautan yang berbeda, hingga kulit berubah warna

berjalan menyusuri Tower Bridge dengan secangkir kopi ditangan,  syal yang melingkar, dan bercakap menari waktu

Lalu nikmat apalagi yang ku ragukan

saat lolos imigrasi

dalam kain balut yang berbeda

menarik koper-koper, menyusuri trotoar demi trotoar

dalam balutan musim dingin yang gigil

Dan aku tau dengan semangat dan bijakmu kau akan berkata

“aku tau kau hanya ingin menikmati selalu Shakespeare’s Globe Theatre”

PS:

Aku akan naik Eurostar.. menemuimu di kaki kaki menara Eiffel..besok.

Dalam heningku hatiku bergumam menambahkan “aku bersedia menikah denganmu”.

Perjalanan-perjalanan ini merubahku menjadi Kinan yang lain. Kinan yang dulu tak percaya diri, Kinan yang dulu selalu minder dengan kemiskinan, Kinan yang dulu berpikiran pendek, dengan melangkah kan kaki kebanyak Negara membuat seorang kinan berubah, sekarang aku bisa berpikir lebih bijak, berpikir bahwa tidak ada yang tidak mungkin selama ada kemauan.

Bukan hanya sekedar perjalanan mewah yang kulakukan, aku pun melakukan perjalanan backpacker. Karena ternyata dengan ber backpacker aku merasa benar benar hidup dan menyatu dengan alam yang melahirkanku. Aku mengenal bahwa ternyata tidak ada yang menandingi keramahan bangsa Indonesia, kita hanya kurang memolesnya sedikit saja, yah sedikit saja untuk jadi lebih baik.

“Books are the plane, and the train, and the road. They are the destination, and the journey. They are home.”  Anna Quindlen

Kuliner di Bandung

Petaperjalanan.com – Libur seharian kebandung ? ga akan pernah bosen kok, hampir sebulan sekali saya selalu kebandung dan entah kenapa ga pernah bosen dan ga pernah kehabisan ide, malah kadang ya itu itu aja yang diliat dan didatangi, mau tau yang kadang selalu saya ulang kalau lagi kebandung ?

Seharian dibandung ? Why not, yuk kita jelajahi satu persatu. Oh iya karena tujuan saya ke Bandung adalah untuk bersantai ria biasanya saya akan sewa mobil atau naik shuttle yang mulai bertebaran di Jakarta, ntar dibandung tinggal naik angkot atau taksi dan biayanyapun ga mahal.

» Read more

Wisata Bandung Part Dua

Wisata Bandung part 2 ini sebenarnya lanjutan dari pembahasan sebelumnya, kalau paginya kita ke bosscha nag siang menjelang sore kita tancap gas ke bukit moko.

Haduhhh jangan tanya deh gimana jejeritan para penumpang ELF kita tumpangi, kalau kesana kalian harus membawa driver yang benar benar ahli, harus ahli sekali lagi ahli biar itu mobil ga melorot kebawah,karena kana kirinya booooo sawah, jurang hadehhhh. Pokoknya kalian bakal menghargai hidup banget deh. Tapi tenang saya aja sempat tidur nyenyak sebelum akhirnya tangan teman sebelah dengan kerasnya berpegangan kepaha saya mencengkeram dengan keras sambil jerit jerit, masalahnya kanan kiri melakukan hal sama. Alhasil saya kaget dan terbangun. Kalau bisa jangan bawa mobil sedan ataupun matic deh kalau kesana.

IMG_1608 IMG_1609 IMG_1617 IMG_1616

Bukit moko sendiri berada di ketinggian 1500 meter dari permukaan laut dan worthed lah sama hasil jejeritan selama perjalanan, pemandangan landscape Bandung 180 derajat bisalah dinikmati, nah kalau mau tinggi lagi tinggal jalan ke bukit bintang.

Kalau tak mau ke bukit Bintang cukup kita berteduh dan berfoto foto di warung Daweung yang artinya melamun, spot terbaik untuk selfie dan nongkrong nongkrong terbaik sambil melihat cahaya malam, jangan lupa ya bawa tripod agar bisa memotret petir, pokoknya yahuud deh.

IMG_1623 IMG_1628 IMG_1624 IMG_1632 IMG_1629 IMG_1635 IMG_1634 IMG_1633 IMG_1649 IMG_1639 IMG_1638 IMG_1656 IMG_1654 IMG_1652 IMG_1672 IMG_1667 IMG_1662 IMG_1660 IMG_1659 IMG_1658 IMG_1657 IMG_1706 IMG_1705 IMG_1702 IMG_1696 IMG_1688 IMG_1685 IMG_1683 IMG_1681 IMG_1676 IMG_1675 IMG_1674 IMG_1673

Mau Kemana Sehari di Bandung ?

Yap akhirnya bisa nulis juga setelah kemarin bercerita tentang kepulauan seribu sekarang ngomongin Bandung yuk , sebenernya ini perjalanan sudah sebulan yang lalu. Yup trip ke Bandung, cari apa saudara saudara ? cari oncom ama yang ganteng ganteng hehehhe. Ok perjalanan kali ini adalah keliling Bandung dalam satu hari.

Pertama ya kita nentuin meeting point karena kita berangkatnya barengan biar irit gitu bro nyewa travel, ittenary kita adalah ke :

  • Bosscha
  • Factory Outlet
  • Bukit Moko
  • Kulinernya jangan lupa dong

Berangkat dari Jakarta berkisar jam 7 pagi, karena hari sabtu bisa ditebak dong macetnya. Plat B mulai memasuki kawasan bandung buat apa lagi kalau ga buat ber weekend ria. Perjalanan dimulai dari Boscha, setelah parkir kendaraan dibawah untuk menuju ketempat Observasi memerlukan waktu berjalan sekitar 30 menit, bagi yang tidak kuat jalan dan sedikit naik bisa naik ojek dengan biaya 5000, nah setelah sampai diarea Boscha kita diajak untuk memasuki area observasi yang memiliki lensa besar.

IMG_1506 IMG_1512 IMG_1508 IMG_1507 IMG_1518 IMG_1516 IMG_1514 IMG_1513 IMG_1521 IMG_1520 IMG_1519 IMG_1528 IMG_1525 IMG_1524 IMG_1523 IMG_1522 IMG_1530

Observatorium Bosscha sendiri dibangun oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging yang bertujuan untuk memajukan ilmu astronomi di Hindia Belanda nah penyandang dananya adalah K.A.R Bosscha, pembangunannya sendiri menghabiskan waktu selama 5 tahun dari tahun 1923 sampai 1928

Observatorium Bosscha (dahulu bernama Bosscha Sterrenwacht) dibangun oleh Nederlandsch-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV) atau Perhimpunan Bintang Hindia Belanda. Pada rapat pertama NISV, diputuskan akan dibangun sebuah observatorium di Indonesia demi memajukan Ilmu Astronomi di Hindia Belanda. Dan di dalam rapat itulah, Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang tuan tanah di perkebunan tehMalabar, bersedia menjadi penyandang dana utama dan berjanji akan memberikan bantuan pembelian teropong bintang. Sebagai penghargaan atas jasa K.A.R. Bosscha dalam pembangunan observatorium ini, maka nama Bosscha diabadikan sebagai nama observatorium ini.

IMG_1536 IMG_1535 IMG_1534 IMG_1557 IMG_1553 IMG_1552 IMG_1551 IMG_1550 IMG_1549 IMG_1548 IMG_1547 IMG_1546 IMG_1545 IMG_1544 IMG_1543 IMG_1542 IMG_1541 IMG_1540 IMG_1539 IMG_1538 IMG_1537 IMG_1562 IMG_1568 IMG_1563 IMG_1576 IMG_1569 IMG_1577 IMG_1581 IMG_1580 IMG_1579 IMG_1578 IMG_1585 IMG_1584 IMG_1582

Disinipun kita diajarkan berbagai macam galaksi, bagaimana bisa terjadi supernova, bagaimana cara melihat bintang, bagaimana posisi bumi diantara planet yang lain dan luar biasa saring ilmu yang diberikan.

Setelah dari Bosscha kita wisata kuliner didepan stadion siliwangi, tapi hehehheehhee rasanya gah deh karena setelah berlapar lapar ria eh nasinya dingin, tempatnya ga rame yang berarti ga begitu sedapppp.

Acara selanjutnya karena Bnadungnya macet kita buru buru ke Bukit moko, bagaimana perjalanannya yuk kita simak kisah selanjutnya.

IMG_1596 IMG_1599 IMG_1598 IMG_1597 IMG_1605 IMG_1604 IMG_1601 IMG_1600

 

1 2