Pada Pergi

sesal
“kamupun selalu tahu, hati bukanlah tempat persinggahan, kau datang lalu pergi”
Tentang Kamu yang selalu datang dan pergi dengan setumpuk bahagia, yang kau bawa lari lalu tiba tiba kau kembali sebelum lukaku sempat lupa.
Ini tentang kau yang berlari jauh, dan tak gubris saatku mengaduh, berjalan melaluiku  bahkan melihatkupun jijik.
Ini tentang kamu yang datang tanpa dosa, segala luka yang kau ciptakan kau anggap tiada. kau selalu berbicara bahwa kau terluka, kau cemburu dan kau begitu lupa perasaanku padamu, aku tahu kau mengira hatiku tercipta dan tertinggal dijaman batu, bagimu aku ini froozen, hati yang tak pernah bisa merasa.
Tentangku kali ini yg sibuk mengatur debar. masih banyak marah tersisa, namun hati tak bisa dusta krn merasakan rindu yang dahulu dan menang lebih dulu. tentangku pula saat hati menyuruhku pergi dan sedikit bertahan.
Ini tentang aku, bahwa cinta bukanlah permainan dan tak akan pernah hilang abadinya ingatan, luka tak akan pernah lupa bagaimana sesak, bagaimana sakit, dan sealipun bekasnya telah hilang tak bersisa dendam, namun luka itu tetap ada.

I’m not scared of losing you. I’m scared of losing myself when I lose you

hati

Aku tahu, dia sudah kelelahan,

Dan entah hatinya terbuat dari apa

Menyusuri waktu, pada kiloanmeter untuk memburu hadiah yang baginya special, memberi kejutan sebuah mawar, lengan kemeja yang terlipat dengan baju dan wajah lusuh karena terik. Biasanya dia selalu rapi, rambut yang selalu tersisir sangat rapi, wangi yang selalu tercium menggoda, aku tahu dia lelah.

Aku tahu hatinya terluka, saat seharian kena bentakan karena sedikit saja salah jalan, buanah selama ini dia juga yang menunjukkan jalan setiap dia pulang dan pergi, hanya satu kesalahan, sepanjang jalan dia kena bentakan.

Aku tahu dia sudah tak sanggup lagi menyetir, aku tahu tangannya sangat berkeringat, bahkan dia hampir saja tak sanggup, ketika sepanjang jalan bentakan demi bentakan tidak pernah surut, aku tahu dia lelah, menahan kantuk, menahan lelah, bahkan menahan lukanya yang aku yakin tak akan pernah mengering, aku tahu  suatu saat dia menemukan bahagia, dia akan sangat trauma dengan lukanya kali ini.

Dan ketika dia membawakan sederet hadiah itu, aku tahu, aku tak pernah menggubris, aku hanya tersenyum dan malas untuk mengucapkan terima kasih, untuk apa ? hadiah yang tak pernah kuminta. Tapi aku tahu, perjuangannya sangat panjang untuk mendapatkannya, karena aku tahu dia tak pernah setengah setengah. Dan sikapku ini bukanlah pertama untuknya.

Aku tahu dia hanya ingin aku tahu, kalau dia tulus, aku juga tahu dia tak hendak memaksakan kehendak padaku. Karena kadang pemaksaannya selalu baik untukku, tapi aku jengah kadang.

Aku tahu, aku selalu mematahkan hatinya dan melepaskannya begitu saja saat cintanya memuncak, dia hanya diam dan lirih berkata, “sesakit inikah jatuh ? seingatku dulu tak sesakit ini”

Aku tahu dia selalu ada saat kubutuhkan, aku tak memberikannya harapan palsu karena diapun sadar bahwa aku tak pantas dia miliki.

Dia yang selalu datang dengan senyuman, dengan kehangatan yang sama, walau berkali kali aku membuatnya patah berkeping keping, kadang dia diam dan luka, kadang dia begitu nyinyir dan pedas aku tahu dia lelah dan terluka. dan kadang dia tak mampu mengontrol cemburu yang seharusnya tak dia miliki.

Aku sadar aku menyakitinya, saat dia yang kucintai berbicara tentang yang lain, saat dia yang kucintai lebih memilih keluarganya, aku tahu ada luka yang menganga saat aku curhat itu kepadanya, saat itu  aku hanya ingin hatiku berkurang bebannya, namun mungkin aku juga egois tak peduli hatinya, aku tahu dia akan diam dan diam diam menyimpan marah, lelah dan luka. Aku tahu dia terluka dan perih.

Aku tahu selalu tak pernah menganggapnya ada, aku menutup mata dengan luka dan telinga, aku hanya ingin dia baik baik saja. Walau dia sering berkata bahwa dia  akan selalu baik baik saja. karena dia pernah berkata ” dia akan selalu baik baik saja”

Tapi aku juga tahu dia tak pernah benar benar baik baik saja karena kutahu “I’m not scared of losing you. I’m scared of losing myself when I lose you” itu katanya. Aku tak paham, apakah kebodohannya sangat tinggi, hingga bertahan pada jarak yang tak pernah kugubris. Tapi kenapa dia selalu ada, ketika aku tak membaik.

Aku tak mengerti , hati macam apa yang diciptakan Tuhan untuknya, tentang ketulusan dan kesabarannya. Kali ini aku mengabaikannya sedemikian rupa, mematahkannya lebih parah. dia ingin pelukan terakhir. Akupun memeluknya, aku tahu aku dulu yang mengejarnya, selalu meminta maaf saat dia ingin menjauh, aku ingin dia ada hanya untukku, tapi kali ini aku bosan, aku muak, aku jijik.

Aku tahu, aku tak kan pernah menemukan ketulusan yang sama, kesabaran yang sama, hati yang baik, dia yang tahu segala luka. mungkin setelah ini dia akan mencaciku, memakiku.

Tapi setelah pelukan terahir itu, dia ta pernah mencaciku, dia tetap tersenyum penuh ketulusan, Tuhan kau buat dari apa hatinya itu ?

Aku tahu, selamanya aku akan kehilangannya, keceriaannya, kehangatannya yang tak pernah kutemukan lagi disisa usiaku kelak, tak seorangpun

Ketika Aku Mati

MAtiku

Ketika Aku Mati

Kau tak perlu pura pura menangis

Aku berjanji akan selalu ada untukmu

Mungkin kau yang menghilang dulu dari nafasku

Aku tak hilang, aku hanya berganti rupa

 

Ketika Aku mati

Tak perlu kau terisak, hapus ketakpedulianmu dulu

Ingatlah aku saat kutersenyum

Tiap kau merindukanku

Tiap kau mengingat kenangan akan aku

Kau tahu, aku slalu ada

 

Ketika Aku pergi

Tak perlu kau menyesal tak ada aku lagi

Tak perlu kau mencari akan hilangku

Aku tak mau harimu mendung

Aku ingin selalu ada dihatimu, bercahaya menunggu pulang

 

Sudahlah,

Tak perlu kau tangisi

Aku ada didekatmu

 

Aku hanya pulang, karena kaulah sebai baik rumah yang kutuju

 

 

 

 

T

Sesederhana Itu

sederhana cinta

Apa Katamu ?

Kendati kutahu kehadiranmu tak bertahan lama

Manis memikat,

 

Kau datang sirna dibawa ombak

seperti pasir

Erat digenggam menghambur

saat kuerat menggenggammu

 

Seperti bulan, yang hanya bisa dipandangi

Seperti matahari yang hanya mampu dinikmati hangatnya

Seperti secangkir kopi yang beriku harap

 

Kamu tahu aku tak paham lagu lagu rumit

Aku tak paham nada bethoven

Aku tak paham kunci gitar

Tapi aku mengaguminya

 

Biarkan hatiku lepas

Biarkan hatiku jatuh

Biar lebam, biar berdarah, biar terluka

 

Biaran rasa ini ada

Selama aku ditahlukkan untuk genggam

Selama aku masih ingin terlayar

Selama aku bisa ternafas

Izinkan sesederhana itu

 

 

 

 

 

 

Tanpa Syarat, Aku

Tanpa syarat

Kedalaman luka yg kau berikan kali ini terlalu dalam

Dalam gugu kuterdiam

Aku memaafkanmu seblum kau meluluh

Aku tak pernah bencimu

 

Aku tak pernah tinggalkanmu

Ada ruang kosong yg menarik tubuhku

Seperti lorong gravitasi

Dan itu tentang kehilanganmu

Aku telah memaafkanmu

 

Bahkan aku memaafkanmu

Sejak pertama kali kita bertemu

Dan aku yakin kau kan berbuat alpha

Aku memaafkanmu

 

 

PILIHANMU

 

 

pilihan

 

Datanglah bila engkau menangis

ceritakan semua yang engkau mau

percaya padaku aku
mungkin pelukku tak sehangat senja

ucapku tak menghapus air mata

tapi ku di sini 
aku lah yang tetap memelukmu erat

saat kau berpikir mungkinkah berpaling

aku lah yang nanti menenangkan badai

agar tetap tegar kau berjalan nanti
sudah benarkah yang engkau putuskan

garis hidup sudah engkau temukan

engkau memilih

1 2 3